Pertama kalinya lolos menembus media, luar biasa rasanya...
Inilah karya itu,
![]() |
| Gambar berasal dari : http://www.kidnesia.com/ |
Lampung post, Januari 2011
Alkisah di sebuah negeri peri. Penduduknya dinamakan para peri negri matahari. Mereka adalah para peri yang selalu bersemangat menyambut pagi. Mereka juga selalu tersenyum ceria mengisi hari untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan. Maka tak heran jika seluruh penduduk dari negri matahari terkenal pintar dan selalu punya kelebihan yang mengagumkan
Tetapi hari itu ada seorang peri kecil yang sedang menangis di tepi danau biru. Dia terlihat sangat sedih. Dan karena tidak ada seorang pun di sekelilingnya, maka dia menceritakan keluh kesahnya pada air danau dan ikan-ikan yang sedang berenang di dalamnya.
“Hai ikan... kenapa aku tidak bisa seperti orang tuaku. Padahal setiap hari aku selalu belajar dengan giat...” peri kecil itu diam. Menyadari bahwa dia sedang berbicara sendiri. Namun kemudian dia melanjutkan berkeluh kesah. Paling tidak dia akan merasa lega dan tidak merasa malu karena tidak seorang pun yang melihat.
“Ayahku seorang pemain biola yang hebat, dan ibuku penari yang juga sangat hebat.. mereka berdua sering diundang ke istana peri untuk menggelar pertunjukan.. tapi kenapa aku tidak bisa seperti mereka. Belajar biola sungguh rumit, begitu juga menari... aku memang sangat bodoh... hiks.. hiks...” peri kecil itu kembali menangis.
Alkisah di sebuah negeri peri. Penduduknya dinamakan para peri negri matahari. Mereka adalah para peri yang selalu bersemangat menyambut pagi. Mereka juga selalu tersenyum ceria mengisi hari untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan. Maka tak heran jika seluruh penduduk dari negri matahari terkenal pintar dan selalu punya kelebihan yang mengagumkan
Tetapi hari itu ada seorang peri kecil yang sedang menangis di tepi danau biru. Dia terlihat sangat sedih. Dan karena tidak ada seorang pun di sekelilingnya, maka dia menceritakan keluh kesahnya pada air danau dan ikan-ikan yang sedang berenang di dalamnya.
“Hai ikan... kenapa aku tidak bisa seperti orang tuaku. Padahal setiap hari aku selalu belajar dengan giat...” peri kecil itu diam. Menyadari bahwa dia sedang berbicara sendiri. Namun kemudian dia melanjutkan berkeluh kesah. Paling tidak dia akan merasa lega dan tidak merasa malu karena tidak seorang pun yang melihat.
“Ayahku seorang pemain biola yang hebat, dan ibuku penari yang juga sangat hebat.. mereka berdua sering diundang ke istana peri untuk menggelar pertunjukan.. tapi kenapa aku tidak bisa seperti mereka. Belajar biola sungguh rumit, begitu juga menari... aku memang sangat bodoh... hiks.. hiks...” peri kecil itu kembali menangis.


